MotoGP Sepang Sum Up By Vanguard : "I Failed as a Man."

Yeah, judul yang membingungkan bukan? Tapi itulah yang terjadi hari ini. Saya merasa gagal sebagai laki - laki. Semua orang tau kalau Vanguard selalu berapi - api di setiap tweetnya. Tapi kali ini saya kehilangan kontrol atas emosi saya sendiri.

Jutaan pasang mata menyaksikan langsung kejadian di Sepang hari ini pada balapan MotoGP seri ke 17 tahun 2015. Valentino Rossi yang sudah menabuh genderang perang dari hari Kamis di jumpa pers dengan mengejutkan semua orang dan menuduh kalau Marquez lebih memilih rekan senegaranya Lorenzo untuk memenangkan kejuaraan dunia daripada dirinya. Rossi tidak mengada - ngada, apalagi bercanda seperti yang biasa dilakukannya di ruang media. Dia menunjukkan keseriusannya dengan membawa data catatan balapan dari seri sebelumnya di Philip Island untuk menunjukkan bahwa Marquez bisa saja menang dengan mudah disana tetapi memilih bermain - main dengan dia dan Iannone yang mana diamini oleh Iannone juga.

Marquez membantah dengen mengatakan kalau dia hanya melakukan tugasnya dan alasan dia melambat adalah karena ban depannya yang terlalu panas. Disini hampir semua orang membela dia. Saya tidak membela Marquez tapi agak terkejut dengan pernyataan Vale yang tidak ada hujan tidak ada angin tiba - tiba mengeluarkan unek - unek yang sudah disimpannya selama beberapa hari semenjak Phillip Island. Karena ini bisa jadi bumerang bagi dirinya. Disini kegagalan saya pertama sebagai laki - laki.

Betul saja, saya langsung membuka twitter dan langsung melihat mention, retweet yang ditujukan kepada saya dimana orang - orang media dan fan sebelah langsung menyerang dan menghujat Vale. Waduh kerja berat nih Minggu ini pikir saya saat itu. Disinilah kegagalan kedua saya sebagai laki laki.

Kenapa saya merasa gagal sebagai laki - laki. Pertama, hari ini saya menitikkan air mata, hal yang sangat jarang  terjadi di hidup saya bahkan terakhir adalah 3 tahun lalu ketika Ayah saya meninggalkan saya. Silahkan judge kalau saya cengeng dan saya banci atau saya lebay. Tetapi saya menulis ini apa adanya tidak dibuat - buat. Right hand to God.
Saya mulai menonton MotoGp dulu ketika guru balap sekaligus kakak sepupu saya mengenalkan saya kepada Mick Doohan. Itu tahun 1996 kalau tidak salah di balapan Ceko dan kalau tidak salah lagi saat itu yang nyiarin adalah ANTV. Sebenarnya yang ingin ditunjukkan kakak saya adalah Mick Doohan, tapi pertama dulu kelas 125 masih disiarin di tivi, jadi saya nonton kelas capung itu dulu. Saya melihat Valentino Rossi untuk pertama kalinya disini, pembalap cungkring, kribo, dengan motornya yang bernomorkan 46 tampil begitu gila. Begitu liar. Begitu luar biasa. Jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar adanya. Saya tidak peduli lagi dengan Mick Doohan yang dielu - elukan kakak saya seolah - olah dewanya balapan. Itulah awal saya begitu menggilai dunia balap. Lagipula dunia sekitar saya dikelilingi oleh orang - orang otomotif, jadi komplit. Sejak saat itu saya bermimpi suatu saat akan menjadi seperti dia. Walau tidak terealisasi tapi saya masih mencintai dunia ini terutama MotoGP dengan Valentino Rossinya. Terkadang memang saya kelewatan beberapa race karena situasi dan kondisi tetapi saya tetap berusaha mengikuti beritanya dari majalah atau berita di tivi. Dulu belum segampang elusan tangan di hp untuk mendapatkan berita jadi saya berlangganan majalah otomotif yang sangat terkenal di Indonesia berpuluh - puluh tahun lamanya hanya untuk langsung membuka halaman tentang MotoGP dan membaca berita tentang Vale. Lainnya saya anggap tidak terlalu penting.

Sampai kepada hari ini, sembilan belas tahun berlalu, dimana dia masih membalap di umurnya yang tidak muda lagi. 36 tahun dimana dianggap terlalu tua sebagai pembalap. Saya tidak sekalipun meninggalkan dia hanya karena dia gagal di 2006 karena teralu ambisius, atau dikalahkan Stoner di 2007 atau ketika dia jatuh dan cedera ketika Mugello 2010. Atau masa kelamnya di Ducati selama dua tahun. Tidak sekalipun saya pernah berpikir untuk mengidolakan pembalap lain. Hanya dia satu - satunya. Jadi kenapa saya begitu bersedih pada hari ini? Karena saya tau semua yang dilakukan Rossi untuk tahun ini. Saya tau semua berita benar dan tidak benar. Saya membaca, menyaksikan, menonton dari berbagai sisi sebelum menyimpulkan. Rossi tidak selalu benar, tapi satu hal yang pasti dan patut kalian ketahui, Rossi bukan orang palsu. Apapun yang dia lakukan dan dia katakan adalah apa yang ada di pikiran, logika dan hatinya. Lebih sering sebagai kontroversi tetapi orang yang jujur apa adanya jarang ditemukan di dunia ini bukan? Rossi kembali ke Yamaha tahun 2013 dengan harapan bisa kembali menemukan passionnya di MotoGP. Kemudian dia memasang target lebih tinggi di 2014 dimana dia ingin bertarung di depan bersama Lorenzo, Pedrosa dan Marquez. Dia sukses walau harus puas berada di posisi 2 klasemen akhir. Tetapi dia sudah berhasil mengalahkan Lorenzo hanya pada di tahun keduanya kembali ke Yamaha. Manusia ini memang istimewa. Tidak henti - hentinya membuat saya dan jutaan orang lainnya kagum. Kemudian di akhir musim 2014 dia mengatakan akan mengalahkan Marquez dan menargetkan meraih kejuaraan dunianya yang kesepuluh kalinya.

Dan sampailah kita di detik ini, detik dimana dia masih memimpin klasemen kejuaraan dunia untuk membuktikan ucapannya tahun lalu. Tapi apakah segampang itu? Tidak sama sekali. Tidak satupun beritanya yang saya lewati dan saya tau kalau betapa kerasnya perjuangan dia sampai di titik ini. Sejak test pra musim di Valencia tahun lalu sampai sekarang tidak banyak yang tau kalau hanya sekali saja dia mengambil waktu liburan untuk berpesta pada malam hari di liburan musim panas lalu. Itu hanya satu malam. Sisanya selama musim ini dia habiskan waktu luangnya untuk latihan di sirkuit pribadinya di Italia. Terkadang dia latihan dengan Yamaha YZF R1nya di sirkuit Misano yang tak terlalu jauh dari rumahnya di Tavullia. Sekaligus latihan dia juga memiliki tugas mulia melatih anak - anak didik VR46 Academynya. Memberikan mereka semua ilmu, trik dan tips untuk menjadi pembalap yang lebih baik lagi. Tidak semua pembalap hebat melakukan ini. Yang mereka tau hanya mereka adalah pembalap kelas dunia, dan persetan dengan generasi muda. Tapi tidak dengan Rossi. Di tengah - tengah kemelutnya dengan tekanan dari kejuaraan dunia tahun ini, dia masih melakukan tugasnya dengan baik.
Tidak sampai disitu saja, Lorenzo sendiri mengakui kalau dia sudah menyaksikan sendiri kerja keras Rossi tahun ini dimana terkadang Rossi sampai tengah malam masih berada di garasi ketika semua orang sudah pulang untuk istirahat. Dia masih mencari settingan terbaik untuk bisa lebih cepat lagi untuk esok harinya. Dia tidak pernah menyerah seburuk apapun situasinya.

Kemudian kejadian hari ini terjadi. Saya menonton dan mengulang video kejadian Rossi yang diklaim menendang Marquez, entah sudah berapa kali. Mungkin sudah ribuan kali saya terus mengulang - ngulang video itu. Dari berbagai sudut kamera. Videonya banyak bertebaran di twitter, di facebook dan di youtube. Yang terlihat hanyalah Rossi menyalipnya, melebar sambil melihat ke arah Marquez. Terakhir diakui Rossi kalau itu untuk memperingatkan aksi Marquez yang menghalang - halangi dia agar Lorenzo bisa kabur ke depan dan mengatakan cukup sudah. Rossi kemudian mengakui kalau dia melambat untuk membuat Marquez kehilangan irama dan Rossi bisa menjauh. Tetapi yang terjadi malah Marquez ngotot masuk ke racing line dan menanduk kaki Rossi dengan kepalanya. Kaki Rossi terlepas dari footstep motor dan kalau dilihat dari salah satu sisi dan hanya sekali akan kelihatan seperti Rossi sengaja menendang Marquez. Dan Marquez terjatuh. Misinya sukses jadi dia merasa tidak perlu melanjutkan balapan walau motornya masih bisa menyala dan dia kembali ke garasinya kemudian menghilang dari kamera. Marquez sadar betul kalau Rossi akan terkena hukuman karena itu dan dia tidak perlu repot - repot menyelesaikan balapan karena sudah tidak ada harapan juga baginya menjadi juara dunia. Itulah yang terjadi menurut pengamatan saya.

Jadi apa yang dikatakan Rossi di hari Kamis di konferensi pers terbukti benar hari ini. Marquez benar menunjukkan kalau dia ingin menghalangi Rossi menjadi juara dunia dengan cara apapun. Walaupun harus mengorbankan harga diri dan level sportifitas dari olahraga ini. Rossi mengatakan kepada media kalau hari ini Marquez membalap hanya untuk membuat dirinya kesulitan. Tidak ada yang bisa membantah ini karena ada jutaan pasang mata yang menyaksikan langsung.

Setelahnya balapan berubah monoton. Posisi 1 2 dan 3 tidak berubah sampai akhir balapan. Yang ada di benak semua orang adalah apa yang akan terjadi setelah balapan. Akankah Rossi dihukum? Kalau dihukum akankah dia kehilangan harapan juara dunianya? Semua mata tertuju pada balapan, tapi tidak satupun pikiran fokus pada balapan itu sendiri.

Balapan selesai, akhirnya saya punya kesempatan melihat mention yang masuk di tweet saya. Luar biasa banyak jumlahnya. Ada ratusan dan bahkan mungkin ribuan mention dan pertanyaan kebingungan hari ini. Saya sampai betul - betul tidak sanggup meladeni semuanya, saya minta maaf tetapi memang ada banyak sekali. Bahkan followers saya saja bertambah lebih dari 1.000 hari ini. Seharusnya saya senang, tetapi tidak, maaf, tetapi tidak. Karena ini terjadi atas satu kejadian yang sangat tidak mengenakkan hati saya. Sepanjang balapan hati saya berkecamuk, tangan saya gemetaran, pikiran tidak tenang, mau teriak rasanya tetapi mulut saya tidak sanggup membuka. Hanya jari - jari saya yang sibuk mengetik hal - hal yang aneh dan terkontrol oleh emosi. Saya tidak sadar ternyata saya menangis sejadi - jadinya. Saya kembali gagal sebagai laki - laki. Akankah perjuangan kerasnya selama ini akan berakhir disini, hari ini, hanya karena kebusukan hati pembalap yang sebenarnya masih punya waktu untuk membuktikan dirinya sendiri? Dan memilih untuk menghancurkan mimpi Rossi? Mimpi saya dan mimpi jutaan orang lainnya hanya demi prinsip kalau dia tidak menang maka Rossi juga tidak boleh menang? Apa yang akan dilakukan juri balapan? Apa hukuman yang akan diberikan kepadanya? Semua pertanyaan - pertanyaan itu terngiang di kepala saya. Saya tidak sadar laptop yang saya gunakan sampai mati karena basah oleh air. Ya saya lebay dan terlalu banci hari ini. Tapi sekali lagi Valentino Rossi benar. Passion bisa membuat orang melakukan apa saja.

Lagi yang aneh adalah malah fans Lorenzo yang muncul di mention saya.  Lucu sekali. Mereka meminta saya untuk mengontrol fans Rossi yang mengejek Lorenzo di podium. Emangnya saya siapa? Saya buat akun ini bukan untuk mengontrol fans Rossi. Saya tidak pernah membuat komunitas - komunitas berlagak saya adalah ketua dari fans Rossi dan berhak mengatur - atur mereka. Saya hanya fans hina yang kerjaannya membela satu nama. Walau terkadang tampak gila tapi memang begitulah adanya. Lorenzo adalah Lorenzo. Bukan salah saya atau fans Rossi kalau banyak orang yang tidak menyukai dia. Bahkan di Spanyol jumlah fans Rossi bisa lebih banyak dari dia sebagai tuan rumah kenapa kalian malah menyalahkan kami? Mungkin sudah saatnya kalian berkaca dan bertanya - tanya kenapa orang membenci dia. Karena mencari - cari alasan dan kesalahan pada orang lain tidak akan membuat kalian menemukan jawabannya.

Anehnya lagi, Lorenzo kabur setelah penerimaan piala. Dia ngeloyor begitu aja meninggalkan Rossi dan Pedrosa untuk sesi foto - foto yang biasa dilakukan di akhir podium. Seolah tidak menghargai seonggok fansnya yang datang hari ini ke Sepang untuk mendukung dia. Ternyata dia ada maksud lain. Dia mengatakan pada media dia langsung meninggalkan podium karena dia sudah sangat capek dan haus. Dia butuh minum untuk menormalkan kondisi tubuhnya. Kemudian orang yang berada disana mengatakan kalau dia terlihat marah - marah, berteriak - teriak dan mengamuk - ngamuk di ruangan media. Jadi dia tidak punya tenaga untuk sesi foto tapi masih cukup kuat untuk mengamuk - ngamuk. Oh.

Tidak ada hubungan Lorenzo dengan kejadian antara Valentino dan Marquez, tetapi tampaknya setiap kesalahan sekecil apapun yang dilakukan Rossi, Lorenzo adalah orang pertama yang muncul baik di Racing Director ataupun di media. Padahal seharusnya dia bersyukur karena dua kali diuntungkan kejadian ini. Pertama di Phillip Island, kali ini di Sepang dimana seharusnya Marquez dan Rossi bisa saja bertarung dengannya dan bisa saja hasil akhirnya berbeda. Beberapa mengatakan kalau dia mengamuk karena RD tidak mengizinkannya ikut campur dalam urusan ini.

Beberapa saat kemudian Marquez dan Rossi dipanggil ke ruangan RD. Kemudian tidak berapa lama RD memutuskan untuk memberikan 3 poin penalti untuk Rossi. Artinya dengan tambahan 1 poin penalti yang didapatkannya karena dituduh oleh Lorenzo menghalang - halanginya ketika sesi Q2 di Misano lalu maka Rossi harus start dari urutan terbelakang di seri terakhir di Valencia nanti. Tidak ada hubungan penalti poin dengan poin klasemen. Rossi akan tetap memiliki keuntungan 7 poin di klasemen sementara MotoGP. Timeline dan mention saya kembali berkecamuk seolah medan perang. Tidak menerima. Saya hanya bisa terdiam beberapa saat melihat keputusan dari RD. Saya sangat stress. urat leher saya tertarik dan kepala saya langsung pusing. Akankah semua berakhir? Akankah semua perjuangan Rossi tahun ini harus pupus karena kejadian hari ini? Dimanakah letak keadilan pada saat ini? Kenapa orang seperti dia harus menjadi korban ketidak-adilan bocah ingusan yang dulu mengaku kalau dia mengidolakan Rossi dan menjadikannya panutan? Apakah semua itu hanya settingan drama untuk mengambil hati Rossi dan penggemarnya? Dan kemudian ketika tiba saatnya dia akan membunuh Rossi perlahan - lahan dan berharap orang akan bersimpati kepadanya dan menjadikannya idola?
Rossi juga tampak sangat kecewa, terlihat sejak dari menyelesaikan balapan. Tidak tampak lagi binar di mata dan senyumnya yang merekah yang mana selalu ditunjukkannya di depan kamera. Dia tampak khawatir. Dia tampak kecewa. Bagaimana rasanya ketika semua perjuanganmu untuk mengejar impianmu dan memuaskan semua penggemarmu tiba - tiba tampak sirna dihancurkan oleh orang yang dikiranya adalah sahabatnya.
Rossi langsung meninggalkan sirkuit sepang dan memutuskan tidak hadir di ruang media untuk memberikan klarifikasi.

Lagi Lorenzo kembali berkomentar kepada media. Dia mengatakan dia tidak puas dengan keputusan hukuman Rossi. Dia menuduh kalau kebesaran nama Rossi telah membuat FIM Dorna menutup mata dan memberikan hukuman yang terlalu ringan. Dia meminta seharusnya Rossi dikurangi poinnya. Padahal Rossi sudah kehilangan 4 poin lagi dari 11 poin yang dibawanya dari Philip Island. Dengan 1 seri tersisa dan jarak antara mereka hanya 7 poin, apalagi yang diinginkan Lorenzo? Dengan kecepatannya di Valencia dimana Rossi tidak pernah menang lagi sejak 2004, apalagi dengan jelasnya dibantu oleh Marquez, dan dimana Rossi harus start dari urutan belakang tampaknya tidak cukup baginya. Dia menginginkan pertarungan yang lebih mudah. Dia ingin menjadi juara dunia tanpa harus berjuang keras di Valencia. Mungkin itu yang akan membuatnya puas.  Dia menegaskan kalau dia kehilangan rasa hormat kepada Rossi karena ini dan mengatakan kalau banyak orang lain juga akan sama. Oh betapa salahnya dia. Yang saya lihat adalah orang akan semakin mual dengannya. Jijik. Seharusnya dia menutup saja mulutnya karena dia tidak ada urusan disini. Sekali lagi saya bertanya pertanyaan yang ratusan kali ada di pikiran saya, kok bisa manusia seperti ini dijadikan idola? Kok bisa? Dia memang pembalap cepat. Dia salah satu yang terhebat. Tapi attitudenya.... attitude yang seharusnya tidak dimiliki seorang pembalap. Oke kalau Valentino Rossi memenangkan kejuaraan dunia tahun ini, apakah akan ada yang menyangkal semua kerja kerasnya? Apakah ada? Tapi kalau yang terjadi sebaliknya, Lorenzo yang memenangkan juara dunia tahun ini, orang pasti akan bertanya - tanya, apakah dia pantas? Inikah kehidupan yang dimauinya? Seperti inikah bagaimana dia mau diingat di masa depan? Sebagai pemenang.... yang tidak pantas? Dia begitu menginginkan apa yang dimiliki Rossi, fans setia, dipuja dimana - mana seolah - olah semua balapan adalah rumahnya. Tetapi umurnya semakin bertambah, yang ada orang semakin banyak yang membenci dia dan menyorakinya di dunia maya dan nyata. Mungkin ini yang mengubah dia menjadi seperti ini. Dia sadar dia tidak akan pernah seperti apa yang sudah dicapai Rossi. Sentimen akan semua yang berhubungan dengan Rossi dan mencoba mencari celah dan kesalahan sekecil apapun untuk menyudutkan dia berharap orang ikut membenci Rossi walau sampai saat ini yang terjadi adalah sebaliknya, Saya sebenarnya kasihan... Dia bisa menjadi lebih baik dari ini, tetapi dia memilih untuk menjadi antagonis.

Rossi kemudian memutuskan kembali ke sirkuit dan membuka jumpa pers. Semua yang diucapkannya bisa dibaca disini : http://www.crash.net/motogp/news/224602/1/rossi-marquez-made-me-lose-the-championship.html

Sedih rasanya melihatnya begitu. Seolah dia kehilangan gairah. Dia mengatakan Marquez sudah menang dan membuatnya kehilangan juara dunia. Tidak pernah ada versi seperti ini dari seorang Rossi seumur hidupnya. Tidak pernah dia menyerah sebelum berperang. Tidak pernah. Dia mengakui kalau dia tidak menyesal membuat pernyataan di hari kamis yang menyerang Marquez. Yang dia sesali adalah dia tidak sadar kalau Marquez masih terlalu muda dan berapi - api. Harapannya setelah mengeluarkan pernyataan itu adalah agar Marquez lebih berhati - hati dengannya ketika di track karena dia sedang bertarung untuk juara dunia sedangkan Marc sudah tidak punya harapan lagi. Yang terjadi malah sebaliknya. Marquez malah semakin menggila dan marah kepadanya dan memberikan jalan ke Lorenzo kemudian membabi - buta menyerang Rossi di track. Dia mengatakan dia tidak ada niat menjatuhkan Marquez sama sekali. Tetapi itu terjadi dan ke depannya dia akan mencoba menghindari Marquez,

Rossi kemudian memperbaiki statementnya dan mengatakan kejuaraan akan lebih sulit sekarang apalagi karena dia harus start dari belakang. Ketika ditanya apakah dia akan kehilangan respek seperi yang dilakukan Marc dan Lorenzo kepadanya dia balik bertanya : "Kamu pikir apa?" karena menganggap itu adalah pernyataan yang tidak pantas dijawab.
Yang Rossi katakan terakhir adalah dia bingung entah kenapa Lorenzo juga menyerangnya padahal dia tidak terlibat apapun disini.

Drama tidak akan berakhir disini karena semua sudah terkuak dengan lebar. Apalagi dengan masih ada satu balapan tersisa tahun ini. Tahun yang dipenuhi drama, plot, dan twist yang begitu menguji jantung dan emosi. Kecuali Pedrosa yang jadi satu - satunya juara hari ini. Dia berkendara tanpa cela dan berkomentar dengan bijak. Dia berusaha adil dan kemudian terakhir mengatakan kalau seharusnya juara sebenarnya ditentukan oleh diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Sungguh merenyuh hati. Itulah kenapa tidak sanggup siapapun yang berakal sehat untuk tidak menyukai Little Spaniard satu ini.

Demikianlah tulisan rangkuman hari ini saya ketikkan dengan sejujur - jujurnya dari apa yang ada di pikiran saya. Saya tidak peduli lagi dengan kejuaraan dunia. Melihatnya bisa membalap sampai detik ini saja sudah bahagia buat saya. Melihat senyumnya, fokusnya, pantang menyerahnya sampai detik akhir, kecintaannya pada motornya yang dianggapnya memiliki jiwa dan matanya yang berbinar cerah ketika kamera menghadap mukanya karena dia tau ada kita di sisi sebelah lain melihatnya dari layar kaca. Itu saja yang saya harapkan kembali, saya ingin menghapuskan ingatan segar mukanya yang tampak hari ini setelah balapan. Saya ingin dia kembali menjadi Valentino Rossi lagi. Walau dia pada akhirnya tidak bisa meraih mimpi kita semua setidaknya dia masih mencintai balapan dan masih bertarung untuk kita semua. Atau setidaknya dia, sukses atau gagal, dengan cara yang manusiawi. Setelah apa yang diberikannya kepada olahraga ini, seharusnya nasibnya tidak diputuskan takdir kejam, melainkan doa jutaan orang yang masih setia mendukungnya, di semua track, di seluruh dunia, dalam susah atau pun dalam bahagia. Seharusnya dia pantas mendapat akhir yang indah. Seharusnya...

Sumber artikel :
With love and passion,
CF46 for VR46Vanguard

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut.
Related Posts