00.02
0
Tyra baru saja menyelesaikan gerakan terakhir dari aksi lenggak-lenggok berpose aduhai. Bahunya terangkat-angkat, memancing mata lewat tato di lengan kirinya. Dalam kaus mini ketat yang masih berpeluh basah..
Tyra Novilla,
Model majalah pria dewasa kelahiran Bandung, 20 November 1991, ini lebih memilih Kawasaki Ninja 150 RR. Kok bisa?

"Dulu pakai Toyota Harrier. Sekarang beli itu (Ninja 150 RR) buat aku sendiri juga buat papa karena papa juga pakai," ungkap pemilik tato di lengan kiri ini tentang 'monster' roda dua 2taknya, yang disebutnya punya warna merah.

Penyuka foto-foto dan dance ini mengakui bahwa papanya adalah mantan pembalap. Tak heran jika motor jenis itu yang akhirnya ada di garasi rumahnya di Bandung.

"Aku bawa sendiri kalau di Bandung. Karena aktivitas karierku lebih banyak di Jakarta, Ninjanya ditinggalin di Bandung. Kalau aku lagi di Bandung sering aku pakai buat ke mana-mana. Sekarang lebih banyak dipakai papa karena aku di Jakarta," akunya.

Bukan sembarang motor yang ia pilih, terutama karena adanya teknologi Super KIPS di Ninja RR.
Pernah coba sendiri?
"Pernah waktu RPM-nya sekitar 7.000-an, wah serem, kayak ada jet-nya. Badanku seperti ada yang dorong. Kalau kata anak-anak Ninja sih itu yang namanya dijambak setan," ujarnya tertawa lepas, sambil menggerakkan panggulnya mengubah posisi ngangkang duduk.

"Makanya aku takut, enggak mau dijambak setan. Jadi waktu di Bandung, aku bawa Ninjanya biasa-biasa aja," tambahnya.

Tyra pun bolak-balik lihat RPM saat melaju. Super KIPS rupanya bikin dia ketar-ketir.

"Mau ngegas lagi, eh, liat RPM dulu, takut motor jadi ngibrit larinya. Kan bahaya mas kalau bawa motor dalam kecepatan tinggi di jalan ramai, dan susah dikendaliin, bisa-bisa nabrak. Apalagi tahu sendiri jalanan di Bandung kayak apa, enggak jauh beda kayak Jakarta," tandasnya.

Tak ayal lari 'dijambak setan', suaranya pun lantas dibilang merdu, lebih dari Ninja 250.

"Ninja RR suaranya lebih enak, garing gimana gitu dibanding yang 4-tak," ungkapnya lagi. Ini juga yang membuat dara penikmat salad dan nasi timbel tersebut mulai melirik kembali roda empat, terutama yang besar dan panjang kokoh.

"Yang lebih sporty juga, dan bodinya besar kayak Range Rover. Nyetir pun enggak jauh-jauh. Dulu aja paling bawa Harrier Bandung-Tasikmalaya. Itu juga bawanya malam-malam waktu sepi," urai penggemar film 'Sex n the City' dan 'Confessions of Shopaholic' itu seraya mengaku selalu mengutamakan safety driving dan safety riding, walau sebenarnya langsung lancar setir mobil saat pertama kali belajar.

Belajar mobil pakai apa? "Aku dulu belajar mobil pakai Jazz matik temanku. Aku belajar gampang aja, langsung bisa. Enggak pernah sampai ada kejadian nabrak atau nyerempet. Waktu teman nyetir aku liatin terus caranya, cara rem, posisi netral, dan macam-macam. Sama pede aja," ungkapnya diikuti pamit karena tank-topnya sudah basah dan ingin segera berganti pakaian..(bersambung)